Seperti wabah flu babi yang begitu cepat melanda dunia, wabah krisis finansial kini juga begitu mudah menular dari satu negara ke negara lain karena saling terkaitnya system finansial global dewasa ini. Financial Times yang terbit awal pekan ini dalam berita yang berjudul Credit Card Debt Crisis Hangs Over Europe, menggambarkan betapa krisis credit card sebagai salah satu krisis yang akan segera mewababah di depan mata.
Berdasarkan data dari IMF; di Amerika saja dari total hutang konsumer yang diperkirakan mencapai US$ 1.914 trilyun – 14 % diantaranya akan macet. Di Eropa dari US$ 2.5 trilyun, 7 % diantaranya akan macet. Di Inggris, lembaga sosial yang membantu mengatasi problem para pengutang – National Debtline – melaporkan meningkatnya permintaan pertolongan sampai lebih dari dua kali lipat dari 20,000 kasus menjadi 41,000 kasus dalam 12 bulan terakhir.
Di Indonesia saya tidak memperoleh datanya, tetapi melihat bahwa produk-produk credit card yang ditawarkan di Indonesia mengikuti model yang sama di Amerika maupun Inggris – maka dugaan saya tidak jauh berbeda masalah yang titimbulkannya.
Problem hutang secara umum dan credit card secara khusus, selain akan memusingkan para pengutang sendiri – akan segera juga menjadi problem bagi institusi-institusi keuangan yang mengeluarkan credit card tersebut dan ujungnya juga akan menjadi problem nasional.
Sebelum problem dengan hutang yang bisa berujung pada stress ini menghinggapi diri Anda juga, berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan untuk menghindarinya.
1) Buat rencana anggaran rumah tangga Anda dan ikuti anggaran yang Anda buat sendiri ini dengan ketat. Dengan membuat anggaran ini setidaknya Anda akan terbantu mengidentifikasi area-area yang perlu mendapatkan prioritas. Dan area-area yang bisa menjadi sumber penghematan keluarga Anda.
2) Hindari hutang dalam bentuk apapun, meskipun dengan hutang itu Anda nampak lebih ‘kaya’. Anda tidak memerlukan rumah baru, mobil baru, tumpukan emas dan sejenisnya bila hal tersebut harus Anda peroleh dari hutang. Percayalah bahwa hutang tidak membuat Anda kaya, bila Anda merasa lebih kaya karena adanya asset yang diperoleh melalui hutang ini – lihatlah segera sisi liability Anda untuk segera menyadarkan diri Anda akan adanya hutang ini.
3) Bila Anda seorang pengusaha yang memerlukan modal diluar kemampuan Anda, bukan hutang solusi Anda. Carilah mitra yang memahami bisnis Anda, yang mau berbagi hasil dan juga berbagi risiko dengan Anda. Yang Anda perlukan bukan kreditur yang dirinya aman tetapi Anda tidak aman, yang Anda perlukan adalah partner yang senasib sepenanggungan dengan Anda.
4) Ubah sikap Anda terhadap uang; Anda perlukan uang untuk menopang tujuan hidup Anda – bukannya Anda hidup untuk mencari uang. Bila saat ini Anda masih hidup dari pagi sampai petang hanyan untuk mencari uang, mulailah berfikir bagaimana mengubah pola hidup Anda menjadi dari pagi sampai petang mengejar tujuan hidup Anda.
5) Bedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Yang Anda inginkan belum tentu yang Anda butuhkan, maka prioritaskan apa yang menjadi kebutuhan Anda dan bukan pada apa yang menjadi keinginan Anda.
Selain yang bersifat ikhtiari tersebut diatas, kita juga memiliki tuntunan yang agung yaitu Do’a untuk menghindarkan diri dari lilitan hutang ini. Keduanya saling melengkapi, sehingga bersamaan kita berusaha menghindarkan diri dari lilitan hutang dengan langkah-langkah tersebut diatas kita juga dianjurkan untuk berdo’a pagi dan petang.
Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal khazan, wa a’udzubika minal ‘adzji wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.
“Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.” Amin. (M. Iqbal)



