
Bila Anda seorang karyawan, Anda mungkin sudah kerja ekstra keras tetapi perusahaan tempat Anda bekerja Anda rasakan tidak memberikan balasan yang memadai. Atau bila Anda seorang wirausahawan, kemungkinan Anda juga sudah menjalankan usaha secara maksimal – namun keuntungan perusahaan dirasa tidak cukup.
Kondisi tersebut diatas sangat mungkin Anda alami bila tempat kerja atau perusahaan Anda termasuk perusahaan yang tujuannya memaksimalkan keuntungan atau dalam bahasa Inggris disebut Profit-Maximizing Businesses (PMBs). Keuntungan yang menjadi dambaan karyawan dan pengusaha, dirasa tidak pernah cukup. Setiap tahun bisa jadi perusahaan mencapai target keuntungan yang dikejar, maka tahun berikutnya dinaikkanlah target tersebut.
PMBs menjadikan pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable growth) sebagai justifikasi untuk menaikkan target setiap tahunnya. Tidak ada salahnya memang, kalau pencapaian target ini tidak mengorbankan kepentingan-kepentingan yang lebih luas dan kepentingan yang lebih abadi seperti kesempatan Anda untuk dapat beramal kebajikan yang diridloiNya (QS 46:15).
Yang lebih seringnya adalah bila keuntungan duniawi ini yang kita kejar, justru kita tidak akan pernah merasa kecukupan. Pingin tahu dalilnya ? perhatikan hadits berikut :
"Barang siapa yang akhirat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup didalam hatinya serta mempersatukan (mempermudah –pentj.) urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya, Allah akan menjadikan kefakiran berada didepan matanya serta mencerai beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekadar apa yang telah ditetapkan baginya". (HR. Tirmidzi).
Ironinya adalah, justru di negara-negara barat yang tidak mengenal hadits tersebut – kini tumbuh menjamur bisnis-bisnis yang tidak mengejar keuntungan materi duniawi. Bisnis semacam ini disebut Social Business atau secara lebih luas disebut Social Enterpreneurship.
Secara sederhana Social Business adalah usaha-usaha yang menciptakan produk barang atau jasa untuk memaksimalkan manfaat sosial. Produk barang atau jasa yang dihasilkan Social Business tersebut dijual kemasyarakat sebagai mana umumnya, namun penjualan ini bukan untuk mengejar keuntungan – melainkan untuk cost recovery agar produk barang dan jasa tersebut dapat di create ulang untuk bisa memberi manfaat secara maksimal pada anggota masyarakat lainnya.
Sebaliknya bila usaha-usaha tersebut tidak bisa menghasilkan cost recovery yang memadai dan berkelanjutan, sehingga tergantung pada subsidi atau donasi dari orang/lembaga lain – maka usaha semacam ini juga tidak bisa dikatakan sebagai Social Businesses melainkan hanyalah lembaga sosial (charity) biasa.
Untuk bisa menghasilkan Social Business yang success dibutuhkan Social Entrepreneurship dari para pelakunya. Social Enterpreneurship ini adalah kemampuan untuk mengenali (potensi) masalah-masalah sosial, kemudian mengorganisasikannya, menciptakan dan mengelola Social Business yang dapat secara berkelanjutan mengatasi masalah-masalah sosial tersebut.
Berikut adalah sekedar contoh masalah-masalah sosial yang membutuhkan Social Enterpreneurship ini :
Penduduk miskin perkotaan seperti Jakarta, justru membayar kebutuhan pokoknya (air bersih) dengan harga yang lebih mahal dari orang-orang kaya.
Orang kaya hidup di rumah-rumah yang luas dan memiliki sumber airnya sendiri, segala kebutuhan airnya tercukupi dari air yang disedot langsung dari perut bumi – gratis !. Kalau toh mereka harus berlangganan air dari Perusahaan Air Minum (PAM), harganya relatif rendah karena distribution cost-nya juga murah.
Sebaliknya masyarakat miskin hidup berhimpitan di rumah-rumah yang sempit di daerah yang tidak lagi ada sumber airnya. Instalasi air bersih dari PAM-pun kalau toh ada lebih sering tidak mencukupi karena konsentrasi penduduk yang tinggi di daerah yang sempit. Akibatnya mereka harus membeli air yang distribution cost-nya mahal untuk segala kebutuhan sehari-harinya - karena harus didatangkan dengan truk tangki ataupun dengan gerobak yang didorong manusia !.
Siapa tahu Anda-lah sosok Social Enterpreneur yang dapat menyelesaikan masalah ini ?. Ini mungkin bukan bisnis yang memberi keuntungan duniawi pada pelakunya, tetapi manfaat sosial yang luas akan dapat dirasakan oleh jutaan masyarakat miskin perkotaan.
Banyak sekali contoh-contoh masalah sosial sejenis yang menuntut Social Enterpreneurship kita untuk menyelesaikannya.
Insyaallah bila kita mau menangani hal-hal semacam ini, kita tidak akan pernah merasa kekurangan karena kita akan masuk ke golongan pertama dari dua golongan orang yang disebut di hadits tersebut diatas. Insyaallah… (M. Iqbal)



