dinar-online.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Daftar Artikel Kerja Dalam Team – Haruskah… ?

Kerja Dalam Team – Haruskah… ?

 

Kerja Dalam Team – Haruskah… ?

Ada temuan yang sangat menarik dari riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi nomor satu di dunia yaitu Hardvard Business School (HBS) yang di publikasikan dalam Hardvard Business Review edisi bulan ini. Temuan tersebut adalah terkait dengan kinerja team.

Selama ini pelaku bisnis, organisasi atau kelompk apapun namanya selalu beranggapan bahwa kerja secara team adalah yang terbaik; pemikiran beberapa kepala akan lebih baik dari pemikiran satu kepala dan anggapan-anggapan sejenis.

Karena anggapan bahwa team-lah yang bisa menyelesaikan segala sesuatunya, maka setiap organisasi punya gawe maka buru-buru team inilah yang pertama kali dibentuk. Akhir-akhir ini dalam percaturan politik negeri ini misalnya kita sering dengar istilah Team-5, Team-9, Team-12 dan seterusnya.

Anggapan tersebut ternyata terbantah oleh temuan-temuan hasil riset HBS sebagai berikut :

· Riset secara konsisten menunjukkan bahwa kinerja team berada dibawah (underperform) potensi-potensi yang ada dari individu yang terlibat dalam team.

· Team hanya bisa efektif bila mereka memiliki arah yang jelas sejak awal, sedangkan penentuan arah ini umumnya tidak bisa diserahkan pada team.

· Team yang lebih kecil berpeluang memberikan hasil yang lebih baik – karena mereka berkesempatan untuk dapat sejalan lebih lama.

· Organisasi dengan departemen SDM terbaik, ternyata malah cenderung mengahasilkan kinerja team yang kurang efektif. Hal ini karena mereka lebih banyak focus pada perbaikan individu, yang tidak selalu sejalan dengan perbaikan team.

· Team leader adalah orang-orang unggul yang tidak bisa selalu dipahami atau sejalan dengan anggota team. Untuk bisa dipahami dan sejalan dengan team – maka tidak jarang team leader ini harus mengorbankan potensinya.

Temuan riset tersebut juga sejalan dengan realita di dunia bisnis. Hampir seluruh perusahaan-perusahaan besar di dunia awalnya di create oleh satu atau dua orang saja, bukan oleh suatu team yang beranggotakan lengkap.

Team yang canggih bisa saja datang belakangan melengkapi setelah ide besar dan arah yang jelas di formulasikan oleh para founder usaha-usaha besar tersebut.

Hasil temuan ini tidak menafikan perlunya kerja team, tetapi yang lebih penting adalah harus adanya kejelasan arah ketika team terbentuk. Harus pula dipahami kapan team perlu dibentuk dan kapan team tidak/belum perlu dibentuk.

Bila Anda punya gagasan bisnis yang brilliant misalnya; tidak harus Anda buru-buru membentuk team. Anda kerjakan semaksimal mungkin dengan kemampuan yang ada, kemudian menambahkan anggota team – as and when Anda memerlukan tambahan resources – kemungkinan ini akan memberikan hasil yang lebih baik karena anggota team yang Anda ajak lebih berpeluang sejalan dengan visi Anda dibandingkan dengan bila Anda mengajaknya ketika Anda sendiri belum yakin akan kemana.

Dari hasil riset ini-pun pimpinan perusahaan atau oraganisasi lainnya dapat mencoba pendekatan baru dalam menangani suatu project atau masalah. Pertama jangan buru-buru bentuk team; Kedua tunjuk seseorang yang paling memiliki competency dan passion (minat yang sangat kuat) pada project atau masalah tersebut. Ketiga team bisa dibentuk ataupun tidak tergantung dengan kebutuhan yang akan datang setelah project atau masalah memiliki arah yang jelas.

Dalam Islam team juga tidak identik dengan jama’ah, dan jama’ah sendiri tidak identik dengan banyaknya orang. Menurut salah satu sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yaitu Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu : “Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.” Wa Allahu A’alm. (M. Iqbal)

 

 

Polls

Minat Anda Membeli Dinar
 

Who's Online

We have 2 guests online


Newsflash

www.dinar-online.com melayani penjualan Dinar Emas Islam bersertifikat berupa emas 22 karat (91.7% emas, 8.3% perak), berat 4.25gr, diameter 23mm, yang diproduksi oleh Logam Mulia - PT Aneka Tambang Tbk. Sangat baik untuk investasi jangka panjang seperti tabungan pendidikan anak, tabungan haji, dana pensiun dll.